Tak Kuasa Menahan Haru, Kasmarni Menangis Saat Orasi Kampanye di Duri
dibaca: 1770 kaliBerita Sebelumnya
- Bupati Bengkalis Serahkan SK PPPK Paruh Waktu Kepala 3.700 Pegawai Pemkab Bengkalis, Ini Pesannya
- Hidupkan Budaya dan Lingkungan Lewat Festival Sampan Layar
- Bupati Bengkalis Kasmarni Tegaskan BBM SPBU Diprioritaskan Untuk Masyarakat
- Bupati Bengkalis Kasmarni Tegaskan BBM SPBU Diprioritaskan Untuk Masyarakat
Berita Terkait
- Instrumen Wakaf Pemangkin Kemajuan Ekonomi Rumpun Melayu
- Prodi HKI STAIN Bengkalis Taja International Teleconference Isu Kontemporer Hukum Keluarga Islam
- Anggota Danramil 09/Minas Kembali gelar gakplin protokol kesehatan.
- Jelang Pemilihan 9 Desember 2020 anggota Danramil 08/Merbau Gelar Patroli Pengamanan
- Anggota Danramil 11/Pwk Kandis kembali gelar patroli pengamanan
- Semangat Tim Milenial KBS Bengkalis Pesisir untuk Paslon 03 Membara Jelang 09 Desember 2020
DURI- Rasa cinta dan dan kasih seorang ibu memang tak ada batasnya. Begitu rasa itu tersentuh dia akan mengalur dengan sendirinya. Hanya bulir-bulir air mata yang menjadi pertanda betapa dalamnya cinta seorang ibu.
Kesan itu yang terungkap saat calon bupati Bengkalis nomor urut 3, Kasmarni, S.Sos, MMP kampanye dialogis di Jalan Nusa Indah Duri, Kamis sore (03/12/2020). Kasmarni tak bisa menahan air mata saat menerima sentuhan cinta dari melenial yang sebaya dengan anaknya. Orasi politiknya terputus, dia diam sesaat. Setelah itu pertahanannya pun jebol. Menangis terisak, Kasmarni pun menyampaikan terimakasih atas tanda cinta dan dukungan puluhan milenial JAS itu.
"Sembilan bulan kami mengandung engkau. Tidak mungkin akan kami biarkan engkau. Inilah upaya yang ibu lakukan. Berjuang untuk mengujudkan keinginan bersama. InshaAllah ibu akan membawa kabupaten Bengkalis ke arah yang lebih baik dan sejahtera," ujar Kasmarni terisak.
Isakan tangis seorang ibu ini membuat suarana mengharu biru. Jurkam Ustad Darmizal, Ustad Salman Mirza, Ustad Syamsir Khan yang duduk dijajaran depan juga tak kuasa menahan haru. Tetesan air mata mengalir di wajah para pendakwah yang kini mati-matian memperjuangkan kemenangan KBS itu. Derai air mata juga membasahi wajah emak-emak yang terdiam mendengar orasi politik yang berubah jadi curhatan seorang ibu. Emak-emak ikut larut dalam tangisan seorang ibu itu.
" Ibu menyadari ibu tak sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Tapi yakinlah saya juga seorang ibu. Percayalah ibu tahu apa yang anak-anak rasakan. Kami.tidak ingin generasi mendatang terpuruk. Bahaya narkoba, semuanya tolong dihindari ya nak. Hanya kita sendiri yang bisa menghidari, orang lain hanya bisa melihat. Kalian adalah harapan kami kedepan," ujarnya berurai air mata.
Derai air mata Kasmarni ini berawal ketika tengah orasi tiba-tiba puluhan milenial JAS yang sekretariatnya tak jauh dari titik kampanye datang dengan barisan arak-arakanya menyanyikan lagu KBS. Mereka masuk ke lokasi kampanye membawakan tanda cinta setangkai bunga yang dipersembahkan untuk ibunda tercintanya. Bergantian mereka menyerahkan setangkai mawar itu.
Usai menyerahkan bunga, mereka juga menyodorkan kue ulangtahun ke hadapan Kasmarni. Kendati terlambat mereka tetap berikan kue sebagai tanda cinta. Tak sampai disini, spontanitas ada dua tiga anak yang memeluk erat Kasmarni hingga suasana menjadi haru.
"Tak menyangka saya pemandangan seperti itu. Ini kejadian luar biasa. Begitu tulusnya kasih seorang ibu," ujar ustad Syamsir Khan yang menyeka air mata dengan handuk di tangannya.
Sebelumnya dua milenial Aulia Azani dan Halif Arifin juga diberi untuk menyampaikan isi hati. Mereka juga ingin mengisi demokrasi ini namun suara mereka kerab terpinggirkan. Orasi berapi api inilah yang makin memicu kesedihan dan air mata dari seorang Bunda Kasmarni. (rls)
Print Berita0 Komentar
Tulis Komentar
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

